EMULSI

19 Jan

 

Bab I

PENGERTIAN EMULSI

Emulsi adalah suatu dispersi dimana fase terdispers terdiri dari bulatan-bulatan kecil zat cair yang terdistribusi ke seluruh pembawa yang tidak bercampur. Emulsi yang mempunyai fase dalam minyak dan fase luar air disebut emulsi minyak dalam air dan biasanya diberi tanda sebagai emulsi m/a. Sebaliknya emulsi yang mempunyai fase dalam air dan fase luar minyak disebut emulsi air-dalam-minyak yang dikenal sebagai a/m. Fase luar dari suatu emulsi bersifat kontinu,suatu emulsi minyak-dalam-air bisa diencerkan atau ditambah dengan air. Untuk membuat suatu emulsi yang stabil, perlu fase ketiga yaitu : zat pengemulsi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab II

TIPE-TIPE DAN KOMPONEN EMULSI

 

  1. Zat pengemulsi

Tahap awal dalam pembuatan susatu emulsi adalah pemilihan zat pengemulsi. Agar berguna dalam preparat farmasi, zat pengemulsi harus mempunyai kualitas tertentu. Zat pengelmusi harus tidak toksis pada penggunaan yang di maksud dan jumlahnya yang diminum oleh pasien. Yang paling penting yaitu kemampuan dari zat pengelmusi tersebut untuk emulsi dan menjaga stabilitas dari emulsi tersebut agar tercapai shelf life dari produk tersebut. Diantara zat pengemulsi dan  zat penstabil untuk sistem farmasi adalah sebagai berikut :

  1. Bahan-bahan karbohidrat seperti zat-zat yang terjadi secara alami : akasia, tragakan, agar, kondrus, dan pectin.
  2. Zat-zat protein seperti : gelatin, kuning telur, dan kasein.
  3. Alcohol dengan bobot molekul tinggi seperti trearil alcohol, setil, alcohol, dan gliseril monostearat,.
  4. Zat-zat pembasah, yang biasa bersifat kationik, anionic, dan nonionic.
  5. Zat padat yang terbagi halus, seperti: tanah liat koloid termasuk bentonit, magnesium hidroksida, dan aluminium hidroksida.

 

 

  1. Tolok Ukur Fisika

Jumlah input kerja tergantung pada panjangnya waktu seama energy disuplai, dengan demikian penjadwalan input kerja menjadi tolok ukur fisika yang penting.

  1. Panas

Penguapan merupakan suatu cara efektif dalam pemecahan sebagian besar ikatan antara molekul-molekul suatu cairan.  Emulsi dibuat dengan melewatkan uap suatu cairan ke dalam fase luar yang mengandung zat pengemulsi yang sesuai. Proses emulsifikasi di sebut juga metode kondensasi, relative lambat dan terbatas pada pembuata emulsi encer dari bahn-bahan yang mempunyai tekanan uap relative rendah, sehingga secara teoritas amat penting.

Emulsifikasi dengan disperse yang lebih praktis dipengaruhi oleh panas-atau lebih baik, perubahan dalam temperature – dengan sejumlah cara.kenaikan dalam t

emperatur akan mengurangi tegangan antar muka dan viskositas. Perubahan pada temperatur mengubah koifisien distribusi pengemulsi antar a dua fase dan menyebabkan migrasi pengemulsi. Distribusi pengemulsi sebagai suatu fungsi temperatur tidak dapat dihubungkan secara langsung, baik dengan pembentukan emulsi atau stabilitas, karena perubahan dalam tegangan permukaan serta viskositas terjadi secara serentak.

  1. Temperatur inversi fase

Pengaruh yang paling penting adalah bahwa temperatur pada suatu emulsi memungkinkan inversi. Temperatur dimana terjadi inversi tergantung pada konsentrasi pengemulsi, dan disebut temperatur inversi fase(TIF). Tipe inversi ini dapat terjadi selama pembentukan emulsi, karena emulsi umumnya dibuat pada temperatur kamar untuk mendinginkannya. Emulsi yang dibentuk dengan teknik inversi fase umumnya dianggap sangat stabil, dan dijamin mengandung fase dalam yang terdispersi halus. TIF umumnya dianggap temperatur di mana sifat-sifat hidrofilik dan lifofilik dari pengemulsi berada dalam keseimbangan, sehingga disebut juga temperatur KHL.

  1. Waktu

Waktu seperti variasi dalam temperatur, mempunyai pengaruh kompleks dan mendalam pada proses emulsifikasi. Selama periode pengocokan awal yang dibutuhkan untuk emulsifikasi, tetesan-tetesan di bentuk; tetapi pada pengocokan selanjutnya, kemungkinan untuk kolisi antara tetesan-tetesan menjadi lebih sering, sehingga dapat terjadi penggabungan. Disarannkan untuk menghindari pengocokan yang terlalu lama, pada waktu dan sesudah pembentukan emulsi. Di lain pihak, adalah tidak mungkin menentukan waktu yang dibutuhkan untuk pengocokan, dan waktu optimum yang diperlukan untuk emulsifikasi ini biasanya ditentukan secara empiris. Briggs menunjukan bahwa pembentukan emulsai yang terbaik adalah dengan menggunakan pengocokan pada waktu-waktu tertentu. Ia menemukan bahwa ia dapat mengemulsikan 60% volume benzen dalam 1% natrium oleat dalam air dengan mengocok secara mekanis 750 kali selama periode empat sampai lima menit. Tetapi  campuran yang sama dapat teremulsi secara sempurna hanya dengan lima adukan tangan dalam waktu kira-kira dua menit, jika emulsi tersebut  dibiarkan diam selam 20 sampai 30 detik setelah tiap pengocokan. Alasan stabilisasi tetesan ang tergantung pada waktu, mungkin disebabakan distribusi pengemulsi antara fase, pembentukan lambat dari lapisan rangkap pada permukaan tetesan benzen, atau gangguan pembentukan tetesan dengan pengocokan kontinu.

  1. Emulsi Energi Rendah

Proses klasik emulsifikasi yang baru saja diuraikan, membutuhkan banyak energi selama siklus pemanasan dan siklus pendingin pada pembentuk emulsi. Dalam emulsi dimana terdapat temperatur inversi fase, emulsi pekat tersebur sebaliknya dibuat diatas TIF-nya, yang menghasilkan emulsi dengan ukuran tetesan yang sangat kecil.

  1. Peralatan Mekanik Untuk Emulsifikasi

Hampir semua metode yang digunakan memecah fase dalam menjadi tetesan-tetesan tergantung pada “kekuatan kasar “ dan membutuhkan beberapa macam pengocokan.  Faktor-faktor yang mempengaruhi perceraian dari suatuti garis tengah pipa semprot, kecepatan cairan yang diinjeksikan, kerapatan dan viskositas yang yang diinjeksikan, dan sudah tentu, tegangan antarmuka antara  kedua cairan tersebut. Tanpa melihat ukuran dan perbedaan-perbedaan kecil, alat tersebut dapat dibagi menjadi empat kategori luas yaitu :

  • Pengaduk mekanik
  • Homogenisator
  • Ultrasonifier
  • Penggiling koloid

Faktor paling penting yang terlibat dalam pembuatan emulsi adalah derajat shear dan turbulensi yang diperlukan untuk menghasilkan dispersi tertentu dari tetesan-tetesan cairan. Dua faktor terakhir ditentukan oleh tipe emulsi, rasio fase, dan tipe serta konsentrasi pengemulsi.

  1. Pengaduk Mekanik

Suatu emulsi dapat diaduk dengan menggunakan berbagai pengaduk dengan bantalan pada ujung tangkai, yang ditempatkan langsung ke dalam sistem yang diemulsikan, jika viksositas  rendah, pencampur sederhana dengan baling-baling pengembangan kerja rutin dalam laboratorium dan untuk tujuan produksi.

  1. Homogenisator

Dalam suatu homogenisator, dispersi dari dua cairan dicapai dengan melewatkan campuran melalui suatu lubang masuk tingggi pada tekanan tinggi. Homogenisator umumnya terdiri dari pompa menaikan  tekanan dispersi pada kisaran 500 500 psi, dan suatu lubang yang dilalui cairan dan mengenai katup penghomogen yang terdapat pada tempat katup dengan suatu spiral yang kuat.

  1. Ultrasonifie

Penggunaan energi ulltrasonik untuk menghasilkan emulsi farmasitik telah diperlihatkan, dan banyak model ukuran laboratorium tersedia. Alat-alat trandusi piezoelektrik digunakan untuk pembuatan emulsi cairan dalam laboratorium dengan viskositas sedang dan ukuran partikel kecil.

  1. Penggiling Koloid

Homogenisator dan peralatan ultrasonik tergantung pada perubahan tekanan tiba-tiba yang mempengaruhi dispersi cairan.

Sebaiknya penggiling koloid melaksanakan prinsip shear tinggi, yang secara normal digerakan antara rotor dan stator dari penggiling tersebut. Penggiling koloid terutama digunakan untuk mengecilkan  zat padat dan untuk mendispersi suspensi yang mengandung zat padat yang sedikit di basahi ,  tetapi juga berguna untuk pembuatan emulsi yang relatif kental.

  1. Emulsi Spontan

Emulsifikasi spontan terjadi bila suatu emulsi di bentuk tanpa penggunaan pengadukan luar apapun. Mikroemulsi biasa terbentuk secara serentak, tetapi tidak semua emulsi spontan transparan. Fenomena emulsifikasi spontan dapat diamati bila setetes minyak di tempatkan pada larutan air dari suatu pengemulsi, dalam hal mana antarmuka menjadi tidak stabil dan menghasilkan pembentukan tetesan-tetesan halus.

  1. Aspek Produksi

Dalam produksi rutin pembuatan emulsi biasanya digunakan  ketel, pengaduk, dan  alat-alat seperti itu. Pemilihan alat diperdagangan untuk produksi emulsi sebagian didasarkan pada kapasitas produksi dan persyaratan-persyaratan kekuatan untuk berbagai tipe alat.

  1. Pembentukan Busa Selama Pengocokan

Selama pengocokan atau pemindahan suatu emulsi, busa bisa terbentuk. Pembentukan busa terjadi karena surfaktan yang melarut dalam air, yang dibutuhkan untuk emulsifikasi, umumnya juga mengurangi tegangan permukaan antarmuka udara-air. Untuk memperkecil atau meminimumkan pembentukan busa, emulsifikasi harus dilaksankan dalam sistem tertutup dan atau di bawah vakum.

Contoh-contoh  praktis

Beberapa formula pilihan yang telah di publikasi dalam literatur diutamakan dibawah. Formmula-formula ini belum disiapkan oleh pengarang, juga belum diperiksa kestabilan atau keamananya.

  1. Tolok Ukur Kimia
    1. Stabilitas Kimia

Ke-inert-an adalah suatu persyaratan  absolut dan hampir nyata untuk bahan-bahan emulsi. Penting diketahui  bahwa  sifat bahan kimia dari semua konstituen emulsi dimengerti sebelum di buat pemilihan untuk preparat tertentu.

B. Keamanan

Keamanan dan klirens toksikologis dari senyawa-senyawa emulsi farmasi dan kosmetik merupakan persyaratan muthlak. Perlu bagi pembuat untuk sangat tergantung pada  informasi toksikologis dari penyalur atau dalam literatur ilmiah, dan pada  aktivitas pengaturann oleh badan-badan pemerintah.

  1. Pilihan Dari  Fase Lemak

Bahan-bahan yang membentuk bagian minyak dari suatu emulsi dan jumlah relatifnya di tent.ukan terutama dengan penggunaan akhir dari produk tersebut.

  1. Perbandingan \fase

Perbandingan fase dalam dengan fase luar seringkali ditentukan oleh kelarutan zatb aktif, yang harus terdapat pada suatu tingkat  efektif  secara farmakologis. Emulsi cair dapat di hasilkan dari tingkat fase dalam yang rendah, sedangkan  emulsi yang lebih berat merupakan hasil dari presentase  fase dalam yang lebih tinggi.

  1. Pemilihan zat pengemulsi

Umumnya dibedakan dalam tiga golongan besar zat pegemulsi yaitu : surfaktan, koloid hidrofilik, dan zat padat yang terbagi halus. Golongan pengemulsi tertentu dipilih terutama berdasarkan stabilitas shelf-life yang di kehendaki, tipe emulsi yang diinginkan, dan biaya penelmusi.

  1. Pemilihan surfaktn

Jumlah surfaktan yang disediakan untuk membentuk emuls sangat besar, sehingga tidak mungkin untuk menguraikanya. pemilihan pengemulsi, griffin pada tahun 1947 mengembangkan sistem keseimbangan Hidrofilik-lipofilik  (KHL) dari surfaktan. KHL yang dibutuhkan untuk mengemulsi minyak tertentu dalam  air dapat ditentukan dengan metode  coba dan ralat yakni dengan membuat emulsi yang t pat dengan membuat emulsi yang tepat dengan pengemulsi yang mempunyai kisaran harga-arga KHL, dan kemudian tentukan nilai KHL yang menghasilkan emulsi terbaik. Umumnya dianggap bahwa penmgemulsi yang lebih hidrofilik cenderung membentuk emulsi m/a, sednagkan surfaktan-surfaktan yang lebih nonpolar cenderung membentuk a/m.

  • Pemilihan Pengemulsi Tambahan padatan

Zat yanng terbagi halus  ternyata  merupakan pengemulsi yang baik, terutama bila di kombinasikan dengan surfaktan dan atau makroolekul yang meningkatkan viskositas.

  • Koloid Hidrofilik

Polimer yang peka terhadap air mempunyai beberapa  kegunaan sebagai pengemulsi utama. Tetapi polimer-polimer tersebut adalah sebagai pembantu pengemulsi da sebagai zat pengental.

  • Pertimbangan Formulasi spesifik konsistensi

Bila emulsi dan pengemulsi yang diinginkan telah dipilih, maka konsistensi yang memberikan kestabilan yang di kehendaki, namun mempunyai karateristik aliiran yang sesuai harus dicapai. Viskoositas emulsi di pengaruhi oleh perubahan komposisi sehubungan dengan generalisasi berikut :

  1. Adanya hubungan linear antara viksositas emulsi dan viksositas fase kontinu.
  2. Makin besar volume fase dalam, makin besar pula viksositas nyatanya.
  3. Untuk mengatur vikspsitas emulsi, tiga faktor interaksi harus di pertimbangakan oleh pembuat fomula.
  4. Biasanya viksositas emulsi meningkat dengan meningkatnya umur sediaan tersebut.

 

  • Emulsi jernih

Umumnya pertimbangan yang dapat di terapkan untuk emulsi yang tidak tembus cahaya berhubungan dengan pembuatan-pembuatan emulsi jernih. Mikroemulsi kosmetik dan farmasetik biasanya tidak menggunkan larutan pembantu yang di perlukan untuk mikroemulsi yang lebih klasik dan minat teoritas.

 

  • Pemilihan Pengawet Antimikroba

Emulsi seringkali mengandung sejumlah bahan seperti karbohidrat, protein, sterol, dan  fostafida serta semua bahan yang menunjang pertumbuhan berbagai mikroorganisme. Akibat pemasukan suatu pengawet merupakan hal yang diperlukan dalam proses formulasi. Sisitem pengawet sebagian besar bahan formulasi harus memenuhi  kriteria umum seperti toksisitas rendah ke stabilan pada pemanasan dan penyimpanan, dapat bercampur secara kimia, biaya yang pantas, da rasa dan bau yang bisa diterima. Masalah kompleks timbul bila pengawet berinteraksi dengan salah satu bahan emulsi, interaksi ini dapat menginaktifasi pengawet terebut. Selain itu juga ada beberapa faktor yang mempengaruhi yatitu, Ph. Ph di kenal menghasilkan pengaruh besar pada kemampuan pengawet asam atau fenol untuk mengganggu pertumbuhan bakteri.

 

  • Pemilihan |Antioksidan

Banyak senyawa organik mudah mengalami autoksidasi bila dipaparkan ke udara, dan lemak yang mudah teremulsi terutama peka terhadap serangan. Banyak obat yang bisa di gabungkan  ke dalam emulsi mudah menghasilkan penguraian. Autoksidasi adalah suatu oksidasi rantai radikal bebas, oleh karena itu rantai ini dapat meghambat dengan adany oksigen, oleh pemecah rantai radikal bebas atau oleh suat zat pereduksi. contoh autoksida  yaitu, asam galat ( L-Tokoferol ), propil galat ( Hidroksitulen turbitulasi), dan asam askorbat ( hidroksianol terbutilasi).

 

  • Rekomendasi tambahan

Dalam pengembangan emulsi di laboratorium, adalah iasa untuk membuat suatu fase minyak yang mengandung semua bahan yang larut dalam minyak, dan untuk memanaskan pada kira-kira sampai 100  diatas titik leleh dari bahan yang mempunyai titik leleh dari bahan yang mempunyai titik leleh yang paling tinggi. Dalam pembuatan emulsi m/a anionik atau kationik, biasanya ditambahkan fase minyak ke fase air, walaupun beberapa ahli teknik memilih teknik inversi, yakni penambahan fase air ke minyak. Bila suatu emulsi dibentuk pada temperatur yang dinaikkan, hilangnya air karena pembentukan harus dibentuk.

 

 

  • Komponen untuk  emulsi

Komponen emulsi dapat di golongkan menjadi 2 macam :

  1. Komponen dasar, yaitu bahan pembentuk emulsi yang harus terdapat di dalam emulsi, terdiri atas
    1. fase dispers/fase internal/fase diskontinu/fase terdispersi/ fase dalam, yaitu zat cair yang terbagi – bagi menjadi butiran kecil di dalam zat cair lain.
    2. fase eksternal/fase kontinu/fase pendispersi/fase luar, yaitu zat cair dalam emulsi yang berfungsi sebagai bahan dasar (bahan pendukung) emulsi tersebut.
    3. emulgator, adalah bagian dari emulsi yang berfungsi untuk menstabilkan emulsi.
  2. komponen tambahan, adalah bahan tambahan, adalah bahan tambahan yang sering di tambahkan ke dalam emulsi untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Misalnya corrigen saporis, odoris, colouis, I pengawet (preservative) dan anti oksidan.

 

Pengawet yang sering di gunakan dalam sediaan emulsi adalah metal,etil,propil, dan butyl-paraben, asam benzoate dan senyawa ammonium kuarterner.

Antioksidan yang sering di gunakan antara lain asam askorbat (vitamin c), tokoferol, asam sitrat, propil galat, dan asam galat.

 

  • Tip

Berdasarkan macam zat cair yang berfungsi sebagai fase internal maupun eksternal, emulsi di golongkan menjadi 2 bagian :

  1. Emulsi tipe O/W  (Oil in Water) atau M/A (Minyak dalam Air), adalah emulsi yang terdiri atas butiran minyak dan tersebar atau terdispersi ke dalam air, minyak sebagai fase internal dan air sebagai fase eksternal.
  2. Emulsi tipe W/O ( Water in Oil) atau M/A (air dalam minyak), adalah emulsi yang terdiri atas butiran air yang tersebar atau terdispersi ke dalam minyak. Air sebagai fase internal dan minyak sebagai fase eksternal.

 

 

Bab III

TEORI-TEORI TERBENTUKNYA EMULSI

 

Teori pengemulsi bisa di gambarkan dalam suatu cara untuk menguraikan cara yang mungkin dimana emulsi dapat di hasilkan dan distabilkan. Diantar teori yang paling lazim digunakan adalah teori tegangan-permukaan, oriented-wedge-theory, dan dan teori plastik atau teori lapisan antarmuka. Kecenderungan dari cairan dapat bisa di ukur secara kuantitatif dan jika lingkungan dari cairan tersebut adalah udara, ia di kenal sebagai teganggan permukaan cairan.

Bila cairan bila cairan kontak dan cairan kedua yang tidak larut dan tidak saling bercampur, kekuatan yang menyebabkan masing-masing cairan menahan pecahnya menjadi partikel-partikel yang lebih kecil disebut tegangan antarmuka. Zat-zat yang menurunkan tegangan  dikenal sebagai zat aktif-permukaan (surfaktan) atau zat pembasah. Meenurut teori tegangan-permukaan dari emulsifikasipenggunaan zat-zat ini sebagai zat pengelmusi dan zat penstabil menhasilkan penurunan  tahanan antarmuka dari kedua cairan yang tidak saling bercampur, mengurangi gaya tolak antara cairan-cairan tert ini sebagai zat pengelmusi dan zat penstabil menhasilkan penurunan  tahanan antarmuka dari kedua cairan yang tidak saling bercampur, mengurangi gaya tolak antara cairan-cairan tersebut dan mengrsebut dan mengrangi gaya taangi gaya tarik-menarik antarmolekul dari masing-masing cairan. Jadi zat aktif-permukaan pembantu pemecah bola-bola besar menjadi bola0bola kecil, yang kemudian mempunyai kecenderungan untuk bersatu yang lebih kecil daripada lazimnya.

Oriented-wedge theory manganggap lapisan monomolekular dari zat pengemulsi melingkari suatu tetesan dari fase dalam pada emulsi. Teori tersebut berdasarkan anggapan bahwa zat pengemulsi tertentu mengarahkan dirinya di sekitar dan dalam suatu cairan yang merupakan gambaran kelarutanya pada cairan tertentu. Dalam suatu sistem yang mengandung dua cairan yang tidak saling bercampur, zat pengemulsi akan memilih larut dalam salah satu fase dan terikat dengan kuat dan terbenam dalam di fase tersebut di bandingkan dengan pada fase lainya.karena umumnya molekul-molekul zat menurut teori ini mempunyai suatu bagian hidrifilik  dan suatu bagian hidrofobik molekul-molekul tersebut akan mengarahkan dirinya ke masing-masing fase.

Umumnya suatu zat pengelmusi yang mempunyai karateristik hidrofilik lebih besar daripada hidrofobiknya akan memajukan suatu emulsi minyak-dalam-air  dan suatu emulsi air-dalam-minyak sebagai hasil dari penggunaan zat pengemulsi yang lebih hidrofobik daripada hidrofilik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab IV

EMULGATOR

  1. EMULSI  TRANSPARAN

Surfaktan hidrofilik dpt digunakan untuk menghasilkan emulsi m/a yg transparan dari kebanyakan minyak termasuk minyak flavor dan minyak “ vitamin “  seperti vitamin A, D, dan E. surfaktan dgn HLB antara 15 sampai 18 telah digunakan secara luas dlm pembuatan emulsi semacam itu. Emulsi transparan adalah suatu dispersi minyak , bukan suatu larutan murni.

Emulsi transparan berbeda dari Emulsi tdk tembus cahaya , tdk hanya karena penampilannya : tetapi juga dlm ukuran partikel minyak yg diemulsi Jauh lebih kecil. Surfaktan yg sangat umum digunakan dlm pembuatan formulasi cairan oral adalah polisorbat 60 da polisorbat 80, akan tetapi polisorbat 60 sering lebih disukai karena rasanya lebih netral, dan beberapa menemukan cairan polisorbat 80 lebih menyenangkan untuk dipakai.

Tidak ada standar formula atau proporsi dari surfaktan untuk digunakan dlm pembuatan disperse minyak. Suatu  awal yg baik yaitu menggunakan 5 subfaktan untuk satu bagian minyak. Jika emulsi jernih yg dihasilkan atau jika campuran minyak – surfaktan pekat menghsilkan produk yg jernih , bila ditambahkan ke air , maka memungkinkan penggunaan surfaktan yg lebih sedikit. Bila emulsi keruh, harus di gunakan jumlah pengemulsi yg lebih tinggi.

Dengan teknik di atas seorang ahli farmasi dpt membuat preparat yg dpt bercampur dgn air dan dapat dimanfaatkan oleh pasien  dan dicampurkan dgn sari buah atau minuman lainnya tanpa menyebabkan kekeruhan.

  1. STABILITAS EMULSI

Umumnya suatu emulsi di anggap tdk stabil secara fisik jika ; (a) fase dlm atw fase terdispersi pd pendiaman cenderung untuk membentuk agregat dri bulatan – bulatan, (b) jiks bulatan – bulatan atw agregat dari bulatan naik ke permukaan atau turun kedasar emulsi tsb akan membentuk suatu lapisan pekat dari fase dlm, (c) jika semua atau sebagian cairan fase dlm  tdk reremulsikan dan membentuk suatu lapisan yg berbeda pd permukaan atau pd dasar emulsi.

  1. AGRERASI DAN PENGGABUNGAN.

Agrerat dari bulanan fse dlm mempunyai kecenderungan yg lebih besar untuk naik kepermukaan emulsi atau jatuh kedasar emulsi tsb dri pada partikel – partikelnya sendiri. Terjadinya bulatan – bulatan seperti itu disebut creaming dari emulsi tsb dan apabila tdk terjadi penggabungan maka akan merupakan proses yg bolak balik. Bagian yg membentuk krim dari suatu emulsi  dpt didistribusikan kembali secara merata dgn jalan pengocokan tdk mencukupi sebelum di gunakan, maka akan diperoleh pemberian dosis dari zat sbg fase terispers yg tdk tepat. Selanjutnya, creaming dari suatu emulsi dlm farmasi tdk dpt diterima secara astesis baik oleh ahli farmasi maupun oleh konsumen.

Menurut persamaan Stokes ( hal 357 ) laju pemisahan dari fase terdispers dri emulsi dpt dihubungkan dgn faktor2 seperti, ukuran partikel dari fase terdispers, perbedaan dlm kerapatan antar fase, dan viskositas fase luar. Perlu di ingat bahwa laju pemisahan ditingkatkan oleh makin besarnya ukuran partikel fase dlm, makin besarnya perbedaan kerapatan antra kedua fase, dan berkurangnya viskositas dari fase luar. Perbedaan fase terdispers dan fase luar harus sekecil mungkin dan viskositas fase luar harus cukup tinggi. Pengental seperti : tragakan dan agar – agar seringkali ditambahkan ke dlm emulsi untuk meningkatkan viskositas fase luar. Creaming kea rah ats terjadi dlm suatu emulsi tipe a/m atau m/a yg tdk stabil dimana fase terdispersi mempunyai kerapatan lebih kecil dri pd kerapatan fase luar.

Kerusakan yg lebih besar dari pd creaming pd suatu emulsi adalah penggabungan bulatan – bulatan fase dlm dan pemisahan fase tsb menjadi suatu lapisan. Pemisahan fase dlm dari emulsi tsb disebut “ pemecahan “ ( breaking ) emulsi dan emulsinya disebut “ pecah “ atau “ retak ‘ bulatan – bulatan fase terdispersi tdk ada lgi.usaha untuk menstabilkan kembali emulsi tsb dgn pengocokan , dri dua lapisan yg memisah umumnya gagal. Biasanya diperlukan zat pengemulsi tambahan dan pemprosesan kembali dgn mesin yg sesuai untuk dpt memproduksi emulsi kembali.

Apabila tejadi pembekuan kemudian mencair , emulsi akan menjadi kasar dan kadang – kadang pecah. Untuk kebanyakan emulsi, industry farmasi melakukan uji evaluasi di bawah kondisi eksperimen, 5 % c, 40 %c , dan 50 % c untuk menetapkan stabilitas produk. Stabilitas baik pd 5 % c dan 40 % c selama 3 bulan di anggap sbg stabilitas minimum yg harus dimiliki oleh suatu emulsi.

Banyak jamur, ragi dan baktei dpt menyebabkan perubahan bahan pengemulsi dlm suatu emulsi, yg pd akhirnya mengakibatkan kerusakan pd sistem emulsinya. Pd kasus dimana produk tdk terganggu mikroba.pengawetan terhadap jamur pd umumnya ditambahkan ked lm fase cair dari emulsi m/a , karena jamur (jamur dan ragi ) lebih banyak kemungkinan mengkontambinasi emulsi dri pada bakteri. Suatu kombinasi dari metal paraben dan propel paraben sering digunakan untuk tujuan ini. Alcohol dlm jumlah 12 – 15 % yg dihitung dri volume fase luar,sering di tambahkan pd emulsi m/a yg diberikan secara oral sbg pengawet.

  1. Contoh – contoh dari emulsi oral

Emulsi minyak mineral

Emulsi ini juga disebut sbg emulsi petrolatum cair , adalah suatu emulsi minyak dlm air dibuat dari formula berikut ini :

Minyak mineral ………………………………………………………………….     500 ml

Akasia ( dibuat serbuk halus )……………………………………………………….      125 g

Sirup ………………………………………………………………………………  100 ml

Vanilla …………………………………………………………….………………   40 mg

Alcohol ……………………………………………………………………………   60 mg

Air yg dimurnikan secukupnya sampai……………………………………….      1.000 ml

Emulsi Minyak Castor

Emulsi ini dimanfaatkan sbg laksansia , untuk menghilangkan sembelit pd persiapan kolon untuk sinar X serta penyelidikan endoskopik. Minyak kastor mungkin menyebabkan kehilangan air dan elektrolit yg berlebihan, bila di pakai secara berlebihan pula maka dpt menjadikan efeknya menurun.

Jumlah minyak kastor dlm emulsi di perdagangan berkisar antara kira – kira 35 – 67 % . jumlah minyak yg terdpt did lm emulsi, mempengaruhi dosis emulsi yg diperlukan.

GEL dan Magma

Gel di definisikan sbg suatu sistem ssetengah padat yg terdiri dari suatu dispersi yg tersusun baik dari partikel anorganik yg kecil atau molekul organic yg besar dan saling diresapi cairan. Gel dlm mana makro molekulnya disebarkan ke seluruh cairan sampai tdk terlihat ada batas diantaranya, cairan ini disebut gel satu fase. Maka gel ini dikelompokkan sbg sistem dua fase dan sering pula disebut magma atau susu.

Dispersi Koloid

Sol  suatu istilah umum untuk menentukan suatu disperse bahan padat, baik dlm medium disperse cair, padat atau gas. Bagaimanapun juga lebih sering dari pada tdk digunakannya dlm hal untuk menentukan sistem disperse padat cair.

Satu perbedaan antara dispersi koloid dan larutan murni, adalah besarnya ukuran partikel fase terdispers yg membentuk preparat ini. Perbedaan lainnya ad/ dlm sifat optic dari  kedua sistem tsb. Larutan murni tdk memancakan cahaya, oleh karena itu kelihatan jernih,tp disperse koloid mengandung partikel – partikel yg buram yg menyebarkan cahaya sehingga tampak keuh.

 

 

 

Bab V

PERHITUNGAN HLB

Setiap jenis emulgator memiliki harga keseimbangan yang besarnya tidak sama. Harga keseimbangan ini di kenal dengan istilah “HLB” (Hydrophyl Lypophyl Balance), yaitu angka yang menunjukan perbandingan antara kelompok hidrofil dengan lipofil. Semakin besar harga HLB, berarti semakin banyak kelompok yang suka air, artinya emulgator tersebut mudah larut dalam air dan demikian sebaliknya.

 

  1. Kegunaan emulgator dan harga HLB

Harga HLB

Kegunaan

1-3

4-6

7-9

8-10

13-15

15-18

Anti Foaming Agent

Emulgator Tipe W/O

Bahan Pembasah (wetting agent)

Emulgator Tipe O/W

Bahan Pembersih (deterjen)

Pembantu Kelarutan (solubilizing agent)

 

Untuk menentukan komposisi emulgator sesuai dengan nilai HLB yang di kehendaki, dapat di lakukan dengan contoh perhitungan seperti tersebut di bawah ini.

Contoh :

Pada pembuatan 100 ml emulsi tipe O/W di perlukan emulgator dengan harga HLB 12. Sebagai emulgator di pakai campuran Span 20 (HLB 8,6) dan Tween 20 (HLB 16,7) sebanyak 5 g.

Berapa gram masing2 bobotSpan 20 dan Tween 20?

Jawab :

A % b = (x-HLBb)

──────── x 100 %

(HLBa-HLBb)

B % a = (100%-A%)

 

Keterangan      x =  Harga HLB yang di minta (HLB butuh)

A = Harga HLB yang tinggi

B = Harga HLB yang rendah

% Tween = (12 – 8,6)

──────── x 100 % = 42%

(16,7 – 8,6)

= 42/100 x 5 g =2,1 g

% Span = 100% – 42% = 58%

58/100 x 5 g = 2,9 g

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: